Hidup adalah sebuah perjalanan, pagi dan senja terekam dalam lukisan pena | Teenager as Director of Change

Saturday, February 23, 2013

Menjelang Petang


Petang menjadi pertanda malam telah menjemput, begitu pula ketika umur menjauhkanmu dari kenangan masa kecilmu. Di sudut waktu Tuhan memperjelas kami—dua orang manusia—untuk memecahkan pertanda…


Tempat yang cukup riuh membuatku mengendikkan kepala lalu mendekatkannya padamu supaya suara sayup-sayup itu tetap terdengar di telingaku. Aku tak pernah menyangka kala kau menanyakan kenapa aku pernah menuliskan kisah kita—aku dan dia—pada sebuah media komunikasi maya, nyatanya dia pernah membacanya. Malu rasanya saat pertama kali harus mengakui itu tapi sungguh ketika aku diberika pilihan menghapusnya atau tidak maka aku tetap tidak ingin menghapusnya sekalipun rona merah menggulung di wajahku. 

“Apa kau sendiri yang menuliskannya” tanyanya di sela riuh suasana petang itu,
“Apa? Menuliskan dimana maksudmu?”
“Blog. Tulisan itu semua hasil karyamu?”
Aku mulai mencerna arah pembicaraannya sekarang “oh… iya, kenapa?”

Diam tanpa jawaban, dia hanya menatapku sebentar lalu berdiri dari posisinya yang tadinya duduk kemudian melangkah ke depan mengambil foto kami—kita sedang mengadakan acara dengan beberapa teman. Entahlah apakah dia juga membaca beberapa judul yang mengisyaratkan itu dirinya, sungguh aku peduli itu. Dulu aku sangat menghawatirkan hal itu namun nyatanya sikap yang sedang dia tunjukkan sekarang amat berbeda dengan beberapa tahun lalu, tidak akan perna ada yang salah dengan masa lalu, terlalu indah untuk di cela bahkan terlalu naïf untuk di lupakan. 

Cahaya kecilku mungkin itu yang sedang dikirimkan Tuhan padaku waktu itu, ketika keadaan sedang menghimpitku di sela roda gila memori tetapi dia datang dengan senyum lalu mengajakku bangkit dan membenahi memori bersama denganku. Bahkan aku sempat membiarkan rasa itu tumbuh hingga pada hari dimana dia mulai memberikan jarak padaku, bukan hanya tempat tapi nalurinya pun tak sedang bekerja padaku. 

Riang itu hanya menjadi harapan, senyum itu hanya sebuah pajangan, tapi boleh kan sedikit aku menyimpankannya untukmu cahaya kecilku. Aku masih menganggapmu sebagai sahabatku, orang terbaik yang pernah hadir diantara banyak cahaya manusia di bumi.

Sekalipun Tuhan amat baik mempertemukan kita pada memori masa lalu aku cukup menikmatinya takkan ku paksakan lagi untuk mengulangnya, semoga bukan seseorang yang mendampingi hatimu sekarang yang membuat keadaan—persahabatan kita—berubah. Rasa tak nyaman terpancar dari gurat wajah sumringah ketika aku menghargai jarak itu. Dia yang mana lagi yang harus ku ulang. Cukup untuk membuatkan ini yang terakhir bagimu—semoga.  Jatuh cinta, aku boleh menyebutnya begitu atau aku musuhnya, takkan pernah ada yang salah dengan sebuah pernyataan hanya saja memori yang tercecer tidak ingin ku dustai lagi.
Aku disini mendoakanmu, Tuhan semoga memberkahi hidupmu. Amin.

No comments:

Post a Comment

Give your respons. Be smart reader with leaving comment